Fakta Unik Copas

fakta unik copas | berbagi seputar fakta unik | unikcopas.blogspot.com | fakta unik yang ada di seluruh dunia

Diberdayakan oleh Blogger.

Kecaman Berubah Menjadi Dukungan Terhadap Kopassus

acUPb185Hn.jpg

Kecaman Berubah Menjadi
Dukungan Terhadap Kopassus - Fakta Unik Copas

Sahabat Fakta Unik Copas , taukah kamu karena Kematian Sersan Heru Santoso, anggota Kopassus,
Grup 2, Kandangmenjangan, Surakarta,
yang tewas dibunuh secara sadis para preman
yang berasal dari Ambon dan NTT, di
Hugo's Cafe, berubah menjadi dukungan
simpati terhadap kesatuan elite itu.

Kalangan pemuda dan rakyat Yogyakarta,
memberikan dukungan kepada Kopassus, guna
memberantas dan membersihkan para preman
dari Yogyakarta. Karena, selama ini ada
pembiaran terhadap para preman, dan bahkan
ada oknum aparat yang memberikan dukungan kepada para preman.

TNI Angkatan Darat dan Kopassus,
beberapa hari ini, terus diharu-biru oleh media
seperti Kompas, Tempo, dan lainnya, yang
dituduh melakukan hukum rimba, ketika
mengeksekusi empat orang preman dan
mantan anggota polisi yang membunuh secara sadis Sersan Heru Santoso.

Kecemanan dan cercaaan itu, kemudian
berbalik menjadi dukungan rakyat dan
elemen-elemen pemuda Yogyakarta, yang
menginginkkan kota pelajar dan budaya itu
dibersihkan dari para preman. Rakyat dan
para pemuda Yogyakarta mendukung tindakan Kopassus yang mengeksekusi para preman.

Yogyakarta, kota pelajar dan budaya yang
tenang, berubah penuh dengan kekerasan sejak
berdatangannya orang-orang dari Ambon dan
NTT, bahkan berkembangnya budaya
kekerasan, narkoba, dan minum, alias
premanisme.

Ketenangan menjadi porak-poranda.
Kekerasan kerap terjadi dan keributan
menyeruak di seantero kota Yogyakarta.
Semua ini berlangsung, karena adanya
dukungan dan main mata, antara para preman
Ambon dan NTT dengan oknum aparat kepolisian.

Hari Minggu, di kota Yogyakarta, di tengah
guyuran hujan, berlangsung aksi dukungan
terhadap Kopassus. Ratusan pemuda dari
berbagai elemen, menggelar aksi dan
melakukan orasi mendukung tindakan
Kopassus yang membersihkan para preman dari kota pelajar dan budaya itu.

Mereka menginginkan kota Yogyakarta bersih
dari segala bentuk premanisme, yang sekarang
sudah menjadi ancaman nyata kehidupan
mereka. Mereka menginginkan Yogyakarta
dibersihkan dari premanisme. Karena itu,
sekarang rakyat Yogyakarta terus melakukan sweeping dan pengawasan terhadap orang-
orang yang berprofesi preman.

Ratusan pemuda menggelar aksi dukungan
atas kejujuran Kopassus,
Kandangmenjangan yang mengakui
perbuatannya. Para anggota Kopassus itu
sudah mengakui sebagai pelaku penempbakan
empat penghuni Lapas Cebongan, yang berasal dari Ambon dan NTT.

Selama ini rakyat Yogyakarta sangat
diresahkan orang-orang Ambon dan NTT,
yang selalu mengintimidasi mereka. Dengan
berbagai bentuk kekerasan yang mereka
lakukan. Dengan tindakan yang dilakukan
Kopassus itu, rakyat Yogyakarta kembali memiliki spirit melawan para preman itu.

Ratusan elemen pemuda dan rakyat
Yogyakarta itu, berasal dari FKPPI,
Paksitkaton, Jogya Otomotif, Rembug Jogya,
Jogya Community, GP Ansor, dan beberapa
elemen lainnya dari rakyat Yogyakarta.
Kelompok-kelompok itu bergabung dalam : "Pemuda Anti Premanisme".

Di Tugu Perjuangan, para pemuda itu, salah
satu diantara pemuda itu, melakukan orasi
tanpa henti, dan mengungkapkan dukungannya
kepada Kopassus. Orasi yang dilakukannya
itu, sebagai bentuk dukungan dan simpati
terhadap anggota Kopassus,Sersan Heru Santoso. Kemudian, mereka mengumpulkan dana : "Semiliar Koin untuk Serka Heru".

"Ini aksi dukungan kita kepada Kopassus yang
dengan berani memberantas preman
Yogyakarta", kata Utomo, Koordinator aksi.
Ratusan pemuda menglilingi Tugu dengan
benda Merah Putih sepanjang 60 meter.
Mereka juga menggelar tabur bunga dan do'a bersama untuk almarhum Serka Heru Santoso.

Beberapa spanduk dikibarkan mengelilingi
Tugu bertuliskan, "Rakyat-TNI bersatu
berantas premanisme, Terimakasih Kopassus,
Yogya Aman Preman Minggat, Kastria
Kopasssu Berani Berubat Berani
Bertanggungjawab", dan "Preman itu Pengecut dan Tak Punya Perasaan".

Memang, sejak terjadi pembunuhan Serka
Santoso, dan kemudian terjadinya
pembunuhan terhadap empat orang preman
dari Ambon dan NTT, banyak para pemuda
yang berasal dari Ambon dan NTT itu,
meninggalkan Yogyakarta, dan sebagian diantara mereka meminta perlindungan
gereja.

"Kita menolak tegas premanisme dan usir
Yoyakarata", ujar Utomo. Dengan aksi itu
menunjukkan solidaritas pemuda Yogyakarta,
yang menginginkan kota Yogya menjadi aman
dan bebas segagala bentuk premanisme.

Dibangian lain, pengumpulan semilair koin
untuk almarhum Serka Heru Santosos
dialkukan dengan mengedarkan kardus
bertuliskan : "Semiliar koin Serka Heru
Santoso", kepada pengendara motor, mobil, dan
pejalan kaki yang melewati Tugu.

Selanjutnya, menurut Prasetyo, salah satu
orator yang ikut dalam aksi di Tugu itu,
mengatakan pengumpulan "semiliar koin",
merupakan bentuk solidaritas bagi almarhum
Serka Heru Santoso. Pengumpulan koin itu
akan dilakukan selama satu bulan. Memang, rakyat sudah sangat letih, melihat berbagai
kekerasan yang dilakukan para preman,
sementara mereka ini, mendapatkan dukungan
dari oknum aparat.

Aksi para pemuda itu, kemudian diakhiri
dengan melakukan konvoi yang membawa foto
Serka Heru Santoso diiringi bendera Merah
Putih, sepanjang 60 meter, dan berbagai
spanduk, serta foto Serka Heru Santoso
diletakkan dibawah patung Jenderal Sudirman di halaman Gedung DPRD DI Yogyakarta.

Sumber ; http://.voa-islam.com/news/intelligent/2013/04/08/23938/kecaman-berubah-menjadi-dukungan-terhadap-kopassus/

Apa komentar sahabat tentang hal ini? Langsung saja coret di kotak komentar blog Fakta Unik Copas okee cooyy....

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Indonesiaku / Taukah Kamu dengan judul Kecaman Berubah Menjadi Dukungan Terhadap Kopassus. Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://unikcopas.blogspot.com/2013/04/kecaman-berubah-menjadi-dukungan.html. Terima kasih!
Ditulis oleh: prieuk tok - Senin, 08 April 2013

Belum ada komentar untuk "Kecaman Berubah Menjadi Dukungan Terhadap Kopassus"

Posting Komentar

berkomentarlah dengan kata yang sopan seperti budaya bangsa kit :)